Psikotes adalah serangkaian tes psikologi yang dipakai perusahaan untuk menilai kemampuan berpikir, ketelitian, dan kepribadian kandidat.
Hasilnya membantu perusahaan memprediksi apakah Anda cocok dengan pekerjaan dan lingkungan kerjanya.
Jika Anda baru diundang psikotes, pertanyaan pertama biasanya: tes psikotes apa saja yang akan dihadapi? Jawabannya bergantung pada level posisi.
Lowongan staf umumnya memakai tes kemampuan dan kepribadian, sedangkan posisi manajer sering ditambah diskusi kelompok dan simulasi kerja.
Sebagai headhunter dan anggota pendiri APRESI yang telah membantu 300+ perusahaan di 30+ industri, Talent Hunts Indonesia juga memakai asesmen terstruktur saat menilai kandidat melalui HUNTS Framework™.
Panduan ini menjelaskan 12 jenis psikotes yang paling sering dipakai, apa yang dinilai, contoh soal singkat, dan cara mempersiapkannya.
Tes Psikotes Apa Saja? Ringkasan 12 Jenis
Tabel berikut merangkum 12 jenis psikotes kerja yang paling sering dipakai perusahaan di Indonesia. Penjelasan dan contoh soal setiap tes ada di bagian selanjutnya.
No |
Jenis tes |
Yang diukur |
Contoh soal singkat |
Tips utama |
|---|---|---|---|---|
1 |
Tes Potensi Akademik (TPA) |
Kemampuan belajar dan berpikir umum |
Gabungan soal kata, angka, dan logika |
Latih soal campuran dengan batas waktu |
2 |
Tes verbal |
Pemahaman bahasa dan kosakata |
Sinonim, antonim, analogi kata |
Perbanyak membaca artikel formal |
3 |
Tes numerik |
Kemampuan berhitung dan membaca data |
Deret angka, soal cerita, tabel |
Kuasai hitung cepat tanpa kalkulator |
4 |
Tes logika |
Penalaran dan menarik kesimpulan |
Silogisme, logika aritmetika |
Baca premis dengan teliti |
5 |
Tes spasial |
Kemampuan membayangkan bentuk dan ruang |
Rotasi gambar, jaring-jaring kubus |
Latih membayangkan objek diputar |
6 |
Tes Pauli |
Ketelitian dan ketahanan kerja jangka panjang |
Menjumlahkan angka satu digit berderet |
Jaga ritme stabil, jangan berhenti |
7 |
Tes Kraepelin |
Kecepatan, ketelitian, dan konsistensi |
Menjumlahkan pasangan angka per kolom |
Fokus pada akurasi, bukan hanya cepat |
8 |
Tes gambar orang dan pohon (DAP, BAUM) |
Gambaran diri dan kepribadian |
Menggambar orang atau pohon |
Gambar utuh dan wajar, jangan asal |
9 |
Tes Wartegg |
Emosi, imajinasi, dan cara berpikir |
Melanjutkan 8 pola garis dalam kotak |
Gunakan semua kotak dan beri judul |
10 |
Tes kepribadian (DISC, MBTI, EPPS, PAPI Kostick) |
Gaya kerja, preferensi, dan perilaku |
Memilih pernyataan yang paling menggambarkan diri |
Jawab jujur dan konsisten |
11 |
Situational Judgment Test (SJT) |
Cara mengambil keputusan di situasi kerja |
Memilih respons terbaik untuk sebuah skenario |
Pikirkan dampak pada tim dan pelanggan |
12 |
LGD dan assessment center |
Kepemimpinan, komunikasi, dan kerja sama |
Diskusi kelompok, in-tray, role play |
Dengarkan, rangkum, dan ajak tim sepakat |
Untuk posisi staf dan fresh graduate, perusahaan biasanya memakai tes 1–10. Untuk posisi supervisor ke atas, tes 11 dan 12 makin sering ditambahkan karena lebih mendekati situasi kerja nyata.
Tes Kemampuan Kognitif (TPA, Verbal, Numerik, Logika, Spasial)
Tes kognitif mengukur seberapa cepat dan tepat Anda memproses informasi. Hampir semua perusahaan memakainya, terutama untuk menyaring kandidat dalam jumlah besar. Setiap bagian biasanya punya batas waktu ketat, jadi kecepatan sama pentingnya dengan ketepatan.
1. Tes Potensi Akademik (TPA). Gabungan soal verbal, numerik, dan logika untuk mengukur kemampuan belajar secara umum.
2. Tes verbal. Mengukur pemahaman kata dan bacaan, misalnya sinonim, antonim, analogi, dan pemahaman paragraf.
Contoh soal verbal: PANAS : DINGIN = TINGGI : ... a. besar b. rendah c. jauh d. luas Jawaban: b. rendah (pasangan lawan kata).
3. Tes numerik. Mengukur kemampuan berhitung, membaca tabel, dan mengenali pola angka.
Contoh soal numerik: 2, 5, 11, 23, 47, ... Jawaban: 95 (setiap angka dikali 2 lalu ditambah 1).
4. Tes logika. Mengukur kemampuan menarik kesimpulan dari pernyataan yang diberikan.
Contoh soal logika: Semua manajer wajib mengikuti pelatihan. Sebagian karyawan adalah manajer. Kesimpulan yang tepat adalah... Jawaban: Sebagian karyawan wajib mengikuti pelatihan.
5. Tes spasial. Mengukur kemampuan membayangkan bentuk, posisi, dan rotasi benda. Biasanya berupa gambar, misalnya jaring-jaring kubus atau bentuk yang diputar.
Contoh soal spasial: Jam dinding menunjukkan pukul 03.00. Pukul berapa yang terlihat jika jam itu dilihat lewat cermin? Jawaban: 09.00.
Tes Pauli dan Kraepelin
Kedua tes ini sama-sama berupa penjumlahan angka satu digit dalam jumlah sangat banyak. Yang dinilai bukan kemampuan matematika, melainkan ketelitian, kecepatan, konsistensi, dan ketahanan Anda bekerja di bawah tekanan waktu.
6. Tes Pauli. Anda menjumlahkan dua angka yang berurutan dalam kolom panjang dan hanya menuliskan digit terakhir hasilnya. Tes ini umumnya berlangsung sekitar satu jam, dan pengawas akan meminta Anda memberi tanda garis secara berkala. Dari situ penilai melihat apakah ritme kerja Anda stabil, menurun, atau naik turun.
7. Tes Kraepelin. Prinsipnya mirip, tetapi lembar kerjanya terdiri dari banyak kolom pendek. Anda harus pindah ke kolom berikutnya setiap kali ada aba-aba, biasanya setiap beberapa detik. Penilai melihat kecepatan, jumlah kesalahan, dan seberapa konsisten hasil Anda dari kolom ke kolom.
Contoh pengerjaan: angka berurutan 7, 4, 9, 2 7 + 4 = 11 → tulis 1 · 4 + 9 = 13 → tulis 3 · 9 + 2 = 11 → tulis 1
Tips: jaga ritme yang bisa Anda pertahankan sampai akhir. Melonjak cepat di awal lalu turun drastis justru terlihat kurang baik dalam grafik hasil.
Tes Gambar (DAP, BAUM, Wartegg)
Tes gambar termasuk tes proyektif: Anda diminta menggambar, lalu psikolog membaca kepribadian dan kondisi emosional dari cara Anda menggambar. Tidak ada gambar yang benar atau salah, dan kemampuan seni tidak dinilai.
8. Tes gambar orang dan pohon (DAP, BAUM, HTP). Pada Draw a Person (DAP) Anda menggambar orang, pada tes BAUM Anda menggambar pohon, dan pada House-Tree-Person (HTP) Anda menggambar rumah, pohon, dan orang. Penilai melihat ukuran, posisi, kelengkapan, dan tekanan garis.
9. Tes Wartegg. Anda mendapat delapan kotak, masing-masing berisi titik atau garis kecil. Tugasnya melanjutkan setiap pola menjadi gambar, lalu biasanya memberi judul dan urutan pengerjaan.
Contoh instruksi: "Gambarlah sebatang pohon berkayu di kertas ini. Jangan menggambar pohon kelapa, pisang, atau bambu." Tips: gambar pohon secara utuh dengan akar, batang, dan daun, dengan ukuran yang proporsional di tengah kertas.
Tes Kepribadian (DISC, MBTI, EPPS, PAPI Kostick)
10. Tes kepribadian mengukur gaya kerja, cara berinteraksi, dan preferensi Anda. Bentuknya biasanya pilihan pernyataan, dan tidak ada jawaban benar atau salah. Yang paling sering dipakai:
- DISC: memetakan gaya perilaku ke empat dimensi, yaitu Dominance, Influence, Steadiness, dan Compliance.
- MBTI: mengelompokkan preferensi ke 16 tipe berdasarkan empat pasang dimensi, misalnya Introvert–Extrovert.
- EPPS (Edwards Personal Preference Schedule): 225 pasang pernyataan untuk mengukur kebutuhan dan motivasi, misalnya kebutuhan berprestasi atau berafiliasi.
- PAPI Kostick: 90 pasang pernyataan yang menggambarkan peran dan kebutuhan kerja, misalnya kepemimpinan, ketelitian, dan kebutuhan aturan.
Contoh soal (pilih satu yang paling menggambarkan Anda): A. Saya senang memimpin diskusi tim. B. Saya senang memastikan setiap detail pekerjaan sudah benar. Tidak ada jawaban yang benar. Pilih yang paling sesuai dengan diri Anda.
Dari pengalaman kami menilai kandidat, jawaban yang "dibuat-buat" agar terlihat ideal justru mudah terlihat tidak konsisten. Banyak tes kepribadian menanyakan hal yang sama dengan kalimat berbeda. Ingin tahu profil Anda sebelum tes sungguhan? Coba tes kepribadian Big Five gratis dari Talent Hunts.
Situational Judgment Test (SJT)
11. Situational Judgment Test menyajikan situasi kerja yang realistis, lalu meminta Anda memilih respons paling tepat. Tes ini menilai pertimbangan, prioritas, dan cara Anda bekerja dengan orang lain. SJT banyak dipakai untuk program management trainee, posisi yang melayani pelanggan, dan calon supervisor.
Contoh soal: Atasan meminta laporan selesai hari ini. Di saat yang sama, rekan satu tim meminta bantuan mendesak untuk masalah klien. Apa yang paling tepat? a. Menyelesaikan laporan dan menolak membantu rekan b. Membantu rekan tanpa memberi tahu atasan c. Memberi tahu atasan, menyepakati prioritas, lalu bertindak sesuai keputusan d. Meminta rekan mencari orang lain Jawaban paling tepat: c. Anda transparan, menjaga kepentingan klien, dan tetap menghormati target atasan.
Latih pola pikir ini dengan Situational Judgment Test gratis dari Talent Hunts. Hasilnya langsung keluar setelah Anda selesai.
Tes untuk Level Manajerial: LGD dan Assessment Center
12. LGD dan assessment center dipakai untuk posisi supervisor, manajer, dan program management trainee. Tes ini mengamati perilaku Anda secara langsung, bukan hanya jawaban di kertas. Beberapa bentuk yang umum:
- Leaderless Group Discussion (LGD): sekelompok kandidat mendiskusikan sebuah kasus tanpa ketua. Penilai melihat inisiatif, cara berargumen, kemampuan mendengar, dan cara mencapai kesepakatan.
- In-tray atau in-basket exercise: Anda menerima tumpukan email, memo, dan tugas, lalu harus menentukan prioritas dan keputusan dalam waktu terbatas.
- Role play: Anda berperan sebagai manajer yang menghadapi karyawan bermasalah atau pelanggan yang tidak puas.
- Presentasi kasus: Anda menganalisis sebuah masalah bisnis dan mempresentasikan rekomendasi.
- Wawancara berbasis kompetensi: pertanyaan tentang pengalaman nyata, misalnya "Ceritakan saat Anda harus memimpin tim di bawah tekanan."
Contoh kasus LGD: "Perusahaan hanya punya anggaran untuk satu dari tiga program: pelatihan karyawan, kampanye pemasaran, atau upgrade sistem IT. Diskusikan dan sepakati satu pilihan dalam 30 menit." Tips: tidak harus bicara paling banyak. Ajukan kriteria keputusan, libatkan anggota yang pasif, dan bantu kelompok merangkum kesimpulan.
Di Talent Hunts, asesmen untuk posisi senior juga memakai wawancara terstruktur dalam tahap asesmen HUNTS Framework™. Kami menilai lima dimensi: cara berpikir, motivasi, rekam jejak, temperamen, dan kemampuan bekerja dengan stakeholder.
Psikotes Online vs Offline: Apa Bedanya?
Semakin banyak perusahaan menjalankan psikotes secara online, terutama untuk tahap awal seleksi. Jenis tesnya sebagian besar sama, tetapi pengalamannya berbeda.
Aspek |
Psikotes online |
Psikotes offline |
|---|---|---|
Lokasi |
Dari rumah, dengan laptop dan internet stabil |
Di kantor perusahaan atau lembaga psikologi |
Pengawasan |
Kamera, perekaman layar, atau proctoring otomatis |
Pengawas langsung di ruangan |
Jenis tes yang umum |
Kognitif, kepribadian, SJT |
Semua jenis, termasuk Pauli, Kraepelin, tes gambar, dan LGD |
Pengaturan waktu |
Timer per bagian, sering tidak bisa kembali ke soal sebelumnya |
Diatur pengawas |
Persiapan khusus |
Cek perangkat, koneksi, dan ruangan yang tenang |
Datang lebih awal, bawa alat tulis dan dokumen |
Untuk psikotes online, uji perangkat dan koneksi sehari sebelumnya, tutup aplikasi lain, dan pastikan tidak ada gangguan selama tes berlangsung.
8 Tips Lolos Psikotes
- Tidur cukup malam sebelumnya. Tes Pauli, Kraepelin, dan tes kognitif sangat dipengaruhi konsentrasi. Kurang tidur langsung terlihat dari jumlah kesalahan.
- Latihan soal dengan batas waktu. Biasakan diri dengan deret angka, analogi, dan logika. Yang dilatih adalah kecepatan, bukan hanya cara menjawab.
- Baca instruksi sampai selesai. Banyak kandidat salah bukan karena tidak bisa, tetapi karena melewatkan instruksi, misalnya menulis digit terakhir saja pada tes Pauli.
- Kelola waktu per bagian. Lewati soal yang terlalu sulit dan kembali jika masih ada waktu, kecuali tes online tidak mengizinkan kembali ke soal sebelumnya.
- Jujur dan konsisten di tes kepribadian. Jawaban yang dibuat-buat agar terlihat ideal mudah terdeteksi dari pertanyaan yang diulang dengan kalimat berbeda.
- Gambar dengan wajar di tes gambar. Gambar utuh, proporsional, dan tidak terburu-buru. Jangan menggambar sesuatu yang ekstrem hanya agar terlihat unik.
- Untuk LGD, berkontribusi, bukan mendominasi. Penilai mencari kandidat yang membantu kelompok mencapai keputusan.
- Siapkan juga tahap setelah psikotes. Kandidat yang lolos psikotes biasanya langsung lanjut ke wawancara. Baca cara mempersiapkan interview kerja agar tidak kehilangan momentum.
Ingin gambaran visual tentang jenis-jenis psikotes? Tonton video "Kalian harus tau jenis-jenis psikotes ini" dari Maukerja Indonesia.
Kesimpulan
Tes psikotes apa saja yang Anda hadapi bergantung pada level posisi. Staf dan fresh graduate biasanya menghadapi tes kognitif, Pauli atau Kraepelin, tes gambar, dan tes kepribadian. Posisi manajerial menambahkan SJT dan assessment center. Dengan mengenal setiap jenis tes dan berlatih lebih awal, Anda bisa datang lebih tenang dan menunjukkan kemampuan terbaik.
Ingin tahu lebih dalam alasan perusahaan memakai psikotes? Baca artikel kami tentang tujuan psikotes.
Mulai latihan sekarang dengan tes kepribadian gratis dan Situational Judgment Test (SJT) dari Talent Hunts, lalu temukan posisi yang cocok di lowongan kerja terbaru kami.